Gallery

Korupsi Adalah Sebuah ‘Kebenaran’

Oleh: M Khasbi*

Serang pemuda terngiang nasihat orangtuanya, “Bagaimanapun juga, orangtua adalah prioritas utama.”

Tersebutlah seorang Pemuda X telah sukses di kehidupan yang serba matrealistik ini; ia berhasil menjadi orang kaya raya. Ia serba kecukupan. Ingin makan tinggal bilang. Ingin berkendara tinggal bilang. Ingin mandi tinggal bilang. Ingin apapun tinggal bilang. Benar-benar suatu pandangan yang kontras dari kehidupan orang-orang miskin.

Kehidupan orang miskin adalah kehidupan yang (sama-sama) ‘tinggal bilang’ tapi perlu membilang-bilangkan kerja keras (memeras keringat).

Pemuda X yang setiap harinya dielu-elukan. Kini hanya bisa mengeluh-ngeluhkan. Dulu, ia memang kaya raya. Kini, tak sedikitpun orang meliriknya. Ia meringkuk sendirian. Tanpa teman. Tanpa ucapan. Dan, ‘tanpa kebohongan’.

Setelah ditelusuri lebih mendalam. Pemuda X itu, ternyata, seorang yang sangat memprioritaskan orangtuanya. Ia pernah berjanji, sampai akhir hayatnya, ia akan bersikekeh untuk tak melakukan ‘kebohongan besar’. Dan, orangtuanya sudah mewanti-wanti itu semua.

Ternyata, budaya untuk tak melakukan kebohongan itu ditanamkan oleh orangtuanya sendiri. Orangtuanya, dengan kedalaman ilmu (pengalaman) menyarankan supaya ‘lebih baik jujur, daripada ajur’.

Lalu sebenarnya, apa yang disembunyikan pemuda X itu?

Benar sekali, sesuai dengan apa yang dibayangkan; ia melakukan korupsi secara terang-terangan bin besar-besaran. Jadi, korupsi yang terang dan besar. Mungkin semacam korupsi yang ‘betulan’ itu, yang ‘kebetulan’ ketahuan.

Mungkin Pemuda X itu memakai diktum filsafat korupsi yang terkenal ampuhnya, sehingga ia sulit untuk ditangkap. Filsafat korupsi yang dipakainya yaitu, ‘Jika mau melakukan korupsi, jangan kecil-kecilan. Itu justru merugikan negara’. Selain itu, ada juga, ‘Jika hendak korupsi, jangan sendirian. Harus berjamaah. Harus rapatkan shaf (barisan)’.

Waktu itu, ketika ditanya oleh koleganya yang bermoral tinggi, ia mengatakan bahwa ‘uang nguntitnya’ selama bekerja di salah satu Dinas adalah tidak haram, alias halal.

“Bagaimanpun juga, uang itu adalah halal,” ucap pemuda itu.

Awalnya, koleganya yang bermoral itu bagai disambar petir di siang bolong. Namun, akhirnya, koleganya itu diberi arahan oleh Pemuda X. Setelah diberi arahan, akhirnya ia mengamini juga ‘hukum kehalalan korupsi’ yang dirumuskan oleh Pemuda X itu.

Orangtua Pemuda X itu sangat bergembira ketika nasihatnya didengar anaknya.

Pemuda X itu mengatakan, “Seperti kata ayah dan ibu, bahwa orangtua adalah prioritas. Makannya, uang ini aku kasihkan ke ayah ibu terlebih dahulu. Baru nanti kolega-kolegaku”.

Angin yang semerimbit menyisir-nyisir rambut tiba-tiba berhenti begitu saja tanpa komando. Udara begitu pengap. Isi otak bergerak-gerak terasa ingin muntah. Tapi mulut serasa terkunci. Hendak mengatakan ‘kebenaran’, namun mengatakan ‘kebenaran’ yang mana? Karena proses itu adalah ‘korupsi’ adalah sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘memprioritaskan orang tua’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘jujur’ juga sebuah ‘kebenaran’. Karena ‘berbagi’ juga sebuah ‘kebenaran’. Sungguh, hanya keambiguan yang ada.

Sungguh tak disangka. Takdir seseorang memang tak ada yang tahu. Tak ada yang memberitahu. Dan kalau ada yang tahu, pasti hanya ‘sok tahu’.

Anak yang dilahirkan susah payah ini bertumbuh besar (Pemuda X). Sangat besar. Kebesarannya tak tertandingi. Banyak orang berdecak kagum karena perilakunya yang ‘sangat jujur’ kepada siapapun. Temasuk jujur kepada kepolisian yang kebetulan menangani kasusnya. Kepada KPK yang ikut ambil bagian dalam kasusnya. Dan, kepada kejaksaan yang wajib ambil bagian dalam kasusnya.

Memang, orang harus saling jujur. Apalagi saling tolong menolong dalam ‘kebiakan untuk kebersamaan’.

Akhirnya, di suatu malam yang dingin. Pemuda X itu menuliskan mantra-mantranya. Mantra yang dipercayainya selama ini. Mantra yang membuat ia sadar. Mantra yang membuat ia menguasai segalanya. Mantra yang juga membuat dirinya jatuh dalam kubungan keambiguan. Ia sadar, semakin hari ingatannya semakin tak baik saja.

Di balik jeruji besi, ia menuliskan kata itu dengan penuh perasaan; ‘Urip iku sawang sinawang’.

Gallery

Panjat Tower

Oleh; M Khasbi*

Baru-baru ini, saya mendengar berita seorang pemuda hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tower; yang bisa dipastikan tinggi tower lebih dari satu meter. Intinya, tinggi. Melebihi manusia tertinggi. Iya, pokoknya kayak begitu!

Alamak! Ada apa lagi ini? Setan mana yang menyelongnya sehingga membuat dia nekat memanjat tower? Jangan-jangan dia orang stress?

Pemuda asal Cilacap itu diketahui nekat memanjat tower disebabkan oleh persoalan asmara. Hubungan yang sedang asyik-asyiknya tiba-tiba kandas di tengah jalan. Akhirnya, tanpa perlu pikir panjang, ia justru memanjat tower yang panjang. Iya, panjang, tapi menjulang ke atas.

Fenomena ini mengingatkan saya pada kejadian pengeroyokan siswi oleh beberapa siswi lain di daerah Riau (kalau tidak salah). Kasus yang itu dan yang ini, ternyata sama. Sama-sama dimotifi oleh permasalahan asmara. Motif yang menurut saya sangat receh itu, kembali terus diulang-ulang oleh generasi micin macam dia yang ada di atas tower itu. Padahal, saya sudah mewanti-wanti sebelumnya untuk memilih motif yang lebih keren dan berbobot sebelum melakukan aksi viral seperti itu. Mbok ya, baca buku ilmu pengantar sosial dulu supaya tahu macam-macam motif sosial. Kalau tidak mau membaca, pemuda-pemuda micin macam kalian-kalian akan tetap terkungkung pada ‘sembelit sosial’ semacam itu.

Sudah, sudah. Tak perlu menghakimi lebih dalam lagi. Saya paham, manusia memang tercipta untuk saling mengenal. Tapi, soal jodoh, soal asmara, soal ‘pacar’, mbok ya, dipasrahkan sama Gusti Allah saja!

Sehubung pemuda yang naik tower itu sudah turun. Saya jadi membayangkan, bagaimana sebenarnya dialog yang (dilakukan) oleh petugas penyelamatan dengan pemuda tersebut.

Mungkin akan seperti ini, deh, jika memang terjadi:

Petugas: “Woy! Ngapain nangkring di situ! Mbok ya, kalau ditinggal pacar jangan manjat tower!”

Pemuda: “Aku tak dengar kalian bilang apa! Kalian bilang apa?”

Petugas: “Turun! Tak ada gunanya bunuh diri! Yang ada merugikan diri sendiri! Woy! Woy! Sudah cepetan turun!”

Pemuda: “Aku tak dengar! Kalian ngapain sih? Kok, rame-rame seperti itu? Mau robohin tower, yak?”

Petugas: “Astagfirullah! Woy! Cuk! Mudun! Nek ora tak undangna biyongmu!”

Pemuda itu masih berdiam diri. Tak menanggapi sedikitpun. Justru ia menunjukan tanda-tanda yang semakin tak terkendali.

Tiba-tiba, ibu dari pemuda itupun datang.

Pemuda: “Cingire! Kok gawa-gawa biyongku? Sakjane rika anu arep ngapa sih!”

Ibu: “Sudah, Nak! Kalau kamu frustasi jangan manjat tower begitu. Itu kambing belum dikasih makan!”

Petugas: “Kalau kamu tak mau turun, tak bawain kepala sekolahmu!”

Kepala sekolahpun akhirnya didatangkan ke lokasi.

Kepala sekolah: “Jancuk! Kelakuanmu rak mari-mari! Wingi wis manjat gendeng sekolah! Siki gari manjat tower game COC!”

Plakk…

Jangan sok serius seperti itu, lah ~

Sing tenang ~ ^,^

Gallery

Tuhanpun Berpolitik

Oleh: M Khasbi*

Menanggapi tuduhan dari beberapa orang terkait; saya (khasbi) orang politis.

Sebelum memberikan jlentrehan terkait tuduhan itu, saya sungguh merasa iba dan prihatin kepada orang-orang yang menuduh saya seperti itu, sebab memanglah tak berdasar tuduhan tersebut, dan ternyata mereka juga tak paham makna politik(s) yang sesungguhnya.

Sebagai kaum pelajar terhebat (mahasiswa), tidak mendayagunakan akal secara maksimal adalah kecelakaan yang fatal. Selain karena menyimpulkan secara cepat termasuk salah satu kegiatan non ilmiah, melempar tuduhan secara sembarang juga kegiatan yang non produkrif dan dibenci oleh siapapun, terutama orang yang dituduh.

Lagi-lagi, ada yang perlu dipertanyakan kembali pada dunia pendidikan kita; Kenapa dunia pendidikan tidak mampu mengantarkan manusia menjadi seutuhnya manusia? Atau setidaknya menjadi beradab?

Terlebih, orang yang memberi tuduhan saya (khasbi) orang politis tengah melaksanakan pendidikan yang digagas oleh islam. Sekolah islam, ternyata juga tidak menjamin menusianya menjadi memanusiakan manusia.

Sebenarnya, saya tidak begitu ambil pusing terhadap tuduhan itu. Namun, ada yang perlu diluruskan, ada yang perlu dibenahi dalam struktur makna politis. Politis secara bahasa artinya bersifat politik. Sementara asal kata politik tidak hanya begitu saja tercetus (pada zaman dulu) dari seorang yang mengatakan, politik, politis atau sejenisnya.

Artinya, dengan mengatakan orang lain politis sebenarnya masih kurang bisa dibenarkan bahwa orang yang dituduh politis tersebut memanglah bersifat politis. Ada kategori, ada kriteria, ada pengertian yang perlu didialektikan terlebih dahulu.

Politis atau politik tidak selalu berarti jelek. Politik tidak selalu barang yang perlu dijauhi seperti apa kata orang islam tekstualis di seberang sana. Politik juga bukan toughut seperti apa yang didengung-dengungkan oleh orang-orang islam sebelah; yang ternyata juga melakukan ekspansi kekuasaannya menggunakan jalur politik. Intinya, politik tidak sekotor dan sejijik yang kalian pikirkan.

Sebenarnya, zaman modern seperti sekarang banyak sekali bahasa-bahasa (kata) yang familiar digunakan namun bukanlah kata yang murni berasal dari bahasa ibu, atau nenek moyang. Bahasa-bahasa ini misalnya adalah ‘demokrasi’, dan termasuk politik itu sendiri.

Politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis yang artinya negara-kota. Dalam sejarahnya, negar-kota atau polis berjaya di Yunani Raya mulai abad ke-8 SM. Polis berhasil mengganti sistem monarki yang sebelumnya berjaya, bahkan polis sangat anti monarki. Polis juga menginginkan hidup independen, terutama dalam bidang ekonominya.

Jadi sangatlah jelas bahwa, bersikap politis artinya independen, bersikap politis berarti menentang sistem monarki dan menginginkan hidup berdikari. Bersikap politis artinya menentukan nasibnya sendiri, tidak manja, tidak lenjeh dan tidak cengeng. Begitulah pemahaman yang perlu diperbaiki terhadap istilah politik.

Selain belajar kepada Bangsa Yunani, kita juga bisa mengambil epistemplogi politik di dalam islam. Islam tidak mungkin bisa sampai begitu banyak pengikutnya, jika tidak menggunakan politik sebagai alatnya untuk terus mengajak umat supaya masuk islam. Kepemimpinan islam sewaktu Nabi, khalifah 4, pasca 4 khalifah atau pasca semua itu, jika tanpa politik tidak akan mampu bertahan di dunia sekejam ini. Bahkan, tuhanpun berpolitik; bahasa (implisit) ini bisa ditangkap lewat cara Ia menciptakan manusia (Adam), Jin dan Malaikat.

Dalam terminologi islam, politik dimaknai sebagai siasyah yang artinya muslihat, berstrategi, merencanakan dan berpikir ke depan. Berpolitik sama dengan berpikir bagaimana caranya mendapat uang, berpolitik sama denga berstrategi bagaimana tim bola kampung sebelah bisa kalah, berpolitik sama dengan bagaimana cara makan. Berpolitik sama dengan hidup. Jadi jelas, setiap manusia pasti berpolitik. Jelas!

Kembali menanggapi ungkapan orang; ‘bahwa saya adalah orang politis’ menjadi perlu. Saya memang politis. Saya memang berpolitik, tapi sesuai dengan makna politik yang sesungguhnya. Saya juga ingin menegaskan bahwa politik itu tidaklah buruk. Bahwa, (mungkin) kalian tetap bersikekeh bahwa politik itu jelek, tolong dipahami bahwa sesungguhnya yang mengatakan saya politis juga sebenarnya lebih politis dari yang dituduh. Tentu tergantung keadaan dan konteks waktu itu.

(6/7/19)

Asumsi Dasar Soal Gaya Hidup

Oleh M Khasbi

Banyak cara untuk hidup, dari yang hanya model sederhana, sampai dengan model hidup yang begitu kompleks. Banyak orang berbondong-bondong memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai untuk satu hari ke depan, satu minggu ke depan, satu bulan ke depan sampai satu tahun ke depan. Dalam proses memenuhi kebutuhan inilah, model atau cara hidup mempengaruhi hampir 90% lebih. Kendati manusia tidak semuanya terpengaruh, model hidup masih menjadi asumsi dasar untuk menempatkan suatu masyarakat pada kelas sosial tertentu.

Persoalan yang timbul sekarang adalah, apakah model hidup itu merupakan pemberian dari Tuhan atau bukan, natural atau kontruksi masyarakat. Hal inilah yang perlu dikaji lebih mendalam dengan harapan; bahwa kita tahu model, cara, dan gaya hidup itu berasal. Sehingga, setelah kita tahu, kita tidak terjebak pada pengetahuan yang sudah ada dan berkembang di masyarakat. Bahakan, jika saya boleh berasumsi dalam hal ini, kaum terpelajar belum ada yang membahas soal ini.

Model hidup adalah tata cara hidup seseorang dalam sebuah komunitas masyarakat. Model hidup dikaitkan juga dengan cara hidup dan gaya hidup. Sehingga, dengan keterkaitan itu, ksemakin jelas bahwa model hidup merupakan seperangkat aktivitas manusia secara khas dalam menghadapi proses perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.

Nah, model hidup ini sangat jelas terkait dengan kondisi lingkungan. Misalnya, jika ada manusia berada di suatu komunitas masyarakat muslim, hampir bisa dipastikan model hidupnya akan mirip-mirip dengan masyarakat muslim yang ada di tempat itu.

Model hidup selanjutnya adalah sangat dipengaruhi oleh alur dan gelombang ekonomi yang sedang bergerak. Manusia, atau bahkan masyarakat akan tunduk pada ekonomi. Ekonomi menjadi basis untuk melakukan kerja sosial di dalam suatu komunitas masyarakat. Sehingga jelaslah kemudian bahwa model hidup atau tata cara hidup akan mengimbangi kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan juga mengimbangi arus dan gelombang ekonomi yang sedang bergerak.

Setelah kita tahu bahwa model hidup atau cara hidup sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan gelombang ekonomi, pengaruh selanjutnya datang dari sisi politik yang ada di dalam masyarakat. Politik ini mampu mengarahkan dan mendikte keinginan-keinginan dan hasrat untuk hidup, yang nantinya mewujud pada model hidup. Sisi politik ini sangat kentara jika dilihat dari; kebijakan yang dibuat.

Sampai di sini, sudah mulai nampak kejelasan bahwa model sosial dibentuk oleh kontraksi masyarakat. Artinya adalah model hidup atau tata cara sosial tidak bersifat suci, namun nisbi.

Sampai di sini juga kita paham bahwa masyarakat yang mengunggul-unggulkan seseorang karena model hidup dan gaya hidupnya adalah sebuah kesalahan. Masyarakat seharusnya tidak perlu menyulut api dalam sekam untuk lebih membarakan penindasan model hirarki sosial. Persamaan atau egalitarian seharusnya menjadi prinsip dalam bermasyarakat untuk memperindah dan mengharmoniskan kehidupan.

Perlu di pahami, model hidup dapat dibagi menjadi dua: model hidup foya-foya (konsumerisme, hedonisme dan lainnya) dan model hidup sederhana (tidak bermewah-mewahan, membenci foya-foya dan bersyukur dengan keadaan/minimalism).

Ada satu lagi yang terlupa, model hidup seksisme. Seksisme adalah merendahkan, menganggap remeh dan menyudutkan orang. Mungkinkah kalian termasuk barisan seksisme yang absolut?

Wallahu alam bissowab.

(Kebumen. 30 Mei 2019)

Gallery

Kitab Sastra 1

Menggunakan kata yang tidak semestinya atau meminjam kata untuk ditempatkan pada yang bukan tempatnya adalah sebuah konsep metafora (isti’arah) dalam Al Qur’an.

Misalnya; singa untuk makna seseorang yang pemberani, Jatuh Dari Langit untuk larinya seekor kuda dari atas ke bawah, duduk di atas ‘arsy untuk menguasai dan lain sebagainya.

#Al Quran Kitab Sastra

Gallery

Kitab Sastra

Jika dalam ayat al Quran banyak meminjam kata-kata yang tidak seharusnya (metafora), maka bukan tidak mungkin ayat-ayat butuh ta’wil dan bukan berhenti pada makna leterleknya saja.

#Al Quran kitab sastra