Aksara, Kata, Tak Berkata, Pembaca

Berjuang menyusun kata memang tidak mudah. Merengkuh-meringkih. Berusaha tenang agar ide dan gagasan tak hilang. Habis dihisap sepa dibuang. Terus saja seperti itu. Berpola, berpola, dan memola.

Kadang aksara tak berwujud. Kadang sesekali dia hidup. Kadang mengejek. Kadang tak terdetek. Aksara bermain kata. Aksara tak suka jika harus disandra oleh gagasan kerdilku. Aksara melawanku jika tak setuju. Aksara membantaiku, menjadilah aku dengan perasaan pilu tak menentu.

Dulu. Aku mudah bermain aksar. Apalagi jika membela dengan bijaksana. Seperti sihir menerpa, semua yang dipandang mata tunduk tak berdaya. Aksara selalu menemaniku dalam beberapa situasi langka. Seperti kala memujanya, atau merayunya. Aksara selalu membantuku memuluskan akal bulus. Kelebat sana sini tak pernah lurus. Jangankan tertangkap maksud dan maknanya, sedikit saja mengucap, langsung tertancap dan kalap. Sungguh pertemanan yang indah tiada dua. Indah, sangat indah, begitu indah dan sungguh indah.

Setelah menelungkap beberapa makna kata. Aku memutuskan beberapa kebutuhanku. Hasyrat menipu. Hasyrat bermuslihat. Hasyrat jahat.

Fat. Yang dalam cerita ini adalah orang aneh dan bego. Sudah mempersiapkan diri dengan tandingan kata dan cerita. Adalah sebuah kebodohan jika aku melawan dia. Yang ada aku harus berteman dengannya. Mendekatinya. Mendekapnya. Kemudian membunuhnya dari jarak paling dekat.

Mungkin akan tak disangka olehnya. Dengan sedikit bumbu tawa. Biar kelihatan kalo aku sebenarnya tak apa-apa.

Tapi tolong diam. Biar aku yang merencanakan. Muslihat dan tipu dayanya. Jangan pernah kalian ikut membicarakan. Cukup simpan dalam pikiran. Aku paham dengan psikologi para pembaca, pasti kalian ingin berkata kepadaku. Aku paham itu. Tapi tak perlu kalian menyumbang kata. Sungguh tak bermakna dalam keadaan yang buruk ini. Cukuplah kalian jadi pembaca setia cerita ini. Cerita sulit. Cerita yang mebelit-belit. Antara aku dan Fat.

Cukup. Iya, cukup!

Rokok yang Ke 101

Masih soal bagaimana caranya balas dendam pada Fat. Aku sengaja menaruh laptop di atas meja. Menyulut rokok MLD kesukaanku. Terdengar nyaring suara tembakau yang terbakar.

Ruangan dengan luas yang cukup untuk tidur, makan, dan menulis ini aku dapatkan dari salah seorang kenalanku yang kebetulan masih bisa dikomunikasi. Sebenarnya rumah ini sedikit horor, sebab sudah lama tak berpenghuni. Hawa-hawa yang membeku. Lantai yang berjubin. Sumur tua yang berlumut.

Andai kalian tahu. Kamar mandinya tak layak disebut sebagai kamar mandi. Airnyapun tak mesti ada.

Tapi hari ini aku bersyukur sekali. Dalam rentetan ketidaknyamanan itu, aku menemukan sebuah ketenangan. Seperti kata para pepatah; hidup harus dinikmati walau kurang sana-sini.

Kembali ke rencana balas dendamku pada Fat. Aku telah menuliskan beberapa cerita-cerita tandingan.

Tentu ini adalah cerita yang berada di dalam cerita. Ini sulit dipahami. Aku menulis cerita tentang Fat. Tetapi dibalik itu semua, Fat telah menuliskan terlebih dahulu.

Aku semakin bingung dengan rencana balas dendamku. Antara naskaj yang ku ketik dan naskah Fat yang ia ketik pasti sama. Bahkan kalo bisa disederhanakan, Fat menuliskan sebuah cerita tentang aku yang menuliskan cerita. Jadi, Fat sudah tahu dulu. Bahkan ia merancang dan mengarang ceritanya sendiri.

Ini rumit dan sulit.

Makanya aku sekarang menghisap rokok. Perlu kalian tahu, ini adakah rokok yang keseratus satu dari batang rokok yang aku hisap selama duduk di depan laptop. Ya, kalian juga tahu, bungkusan kopi sasetan sudah menggunung, walau tak setinggi gunung asli.

Aku sebenarnya sudah menulis dalam microsoft world. Di sana terpampang “Fat adalah Pecundang Jalanan”

Narasiny terlihat sangat mendeskrit, menyudutkan dan menjelekan Fat. Seperti biasa, narasi negatif harus dibangun. Supaya turun.

Keluar Tetapi Pergi

Setelah berhari-hari meninggalkan penjara. Aku memutuskan untuk hidup sendiri. Membeli sebuah kontrakan di daerah Kebumen, tepatnya di pinggiran kota.

Aku tahu aku butuh untuk menenangkan diri. Aku butuh intropeksi diri. Supaya tak semakin meninggi. Apalagi hanya gara-gara dibenci.

Yah. Seperti yang kalian tahu. Hati mana yang tak sakit jika harus dicaci. Dibenci oleh masyarakat sendiri.

Ke mana kaki berpijak, disitu caci menepak. Dimana tubuh tergeletak, disitu maki datang tak bisa dipungkiri. Rumahku tak seperti rumah sendiri. Terlalu banyak mata melirik sana-sini.

Aku tahu kotaku. Masyarakatku. Mengucilkanku. Membunuh karakterku. Pasrah. Mungkin!

Orang tuaku juga disasar. Dicap orang tak sadar.

“Masa iya. Seorang Kyai. Keluarga islami. Anaknya masuk bui. Copot pangkat Kyai! Dan usir anakmu dari sini!” begitulah umpat warga desa.

Yah. Seperti yang kau tau. Orang tuaku menangis tak henti-henti.

Apalagi ibuku. Dia tak kuasa melihatku. Linangan air mata. Membasahi pipi. Berkali-kali menghela nafas. Demi menenangkan diri.

Lihat juga ayahku. Tak pernah berhenti. Berkomat-kamit. Seperti sedang merapal doa. Supaya hati tak redup dari cahaya ilahi.

Yah. Seperti tebakanmu. Ayahku juga menghela nafas berkali-kali. Tapi kalian juga perlu tahu. Ketenangannya tiada tertandingi.

Ayah pasti tahu. Hanya doa. Iya. Hanya doa yang mampu merubah segalanya.

Aku tak kuasa bila harus mengingat-ingat itu semua. Aku juga masih belum berkuasa mengentikan aliran kesedihan. Iya. Walaupun sekarang aku sudah jauh dari para pencaci. Tapi. Aku khawatir dengan keadaan orang tuaku saat ini.

Jika sampai ada anarki. Siapa yang hendak melindungi. Tak ada bela diri. Tak bisa membela diri.

Sekarang. Aku sudah mawas diri. Kepada apapun dan siapapun. Supaya tak cepat menyimpulkan.

Kepada siapa aku harus membalas dendam. Jika bukan kepada Fat. Iya. Si Keparat itu.

Aku sudah mempersiapkan diri. Membeli segala peralatan untuk melawan. Aku berjanji pada diriku sendiri. “Aku akan menulis lagi!”

Rencana Pertama

Fat. Sepertinya yang kau rencanakan. Kau sengaja membiarkanku keluar dari penjara. Setelah dirasa kurang menarik jika diriku dijebloskan ke penjara, kini kau membuat reka-reka baru dengan meloloskanku begitu saja dari penjara. Bebasku ini tanpa syarat.

Setelah mendekam di penjara selama dua bulan lebih satu minggu. Aku menyambut udara segar pagi ini. Seperti kata banyak penyair. Alam menyimpan banyak sajak-sajak. Alam selalu menjadi panduan manusia-manusia rapuh. Seperti yang sedang aku rasa saat ini, rapuh akibat merindu yang terlalu sangat kepada kawan-kawan dan keluargaku. Rindu menjadi candu. Membuat sakau diriku.

Sebelum keluar penjara, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa balas dendam adalah hukum wajib yang harus ditunaikan. Balas dendam pada Fat yang keparat itu.

Tapi aku menjadi ragu dengan janjiku itu. Jangan-jangan Fat juga tahu. Jangan-jangan Fat justru yang membuat hatiku menjadi ingin membalaskan dendam kepadanya. Sebab yang aku pahami selama ini adalah nasibku ada di sepucuk karya yang dituliskannya. Fat pasti tahu.

Keraguanku menjadi bertambah ketika tiba-tiba aku bisa keluar dari penjara dengan status bebas tanpa syarat. Fat memang membeberkan rencananya kepadaku waktu itu, tapi dia hanya memberikan klunya saja. Tapi klunya begitu banyak. Merentet dan menimbun harapan-harapanku.

Mentari yang sedari tadi tak mau nampak kini menjadi gagah berdiri di atas banner -banner besar bergambar caleg. Aku melihat banner-banner aneh terpampang di antara pinggiran jalan kota. Anehnya lagi, gambar-gambar yang dipampang itu tak ku kenal sama sekali.

“Mas. Yuk tak anter pake becak. Njenengan rumahnya mana?” tanya tukang becak yang biasa mangkal di pinggir Rumah Tahanan.

“Nanti dulu njih pak. Saya mau ngopi dulu saja. Saya ketinggalan info soalnya” ucapku.

Diantarnya aku ke tempat mangkal para pegawai becak. Di sana ada becak tarik yang bersanding dengan tenang bersama becak motor. Pemandangan ini agak aneh bagiku.

Aku diajak duduk bersama para pembecak. Dipesankannya aku satu buah kopi. “Njenengan pesen rokok sendiri ya mas. Saya ndak tau rokonya njenengan apa soalnya” ungkap salah satu pembecak.

Aku langsung berdiri dan memnghampiri warung. “Mbak rokok MLD warna hitam. Yang isi 16..” Sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan seseorang yang aku kenal duduk di antara kursi-kursi warung. Membawa pulpen dan kertas putih. Dia diam. Dia adalah Fat.

Keparat Kau Fat!

Aku yang masih duduk termangu dalam penjara tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran sosok yang entah dari mana arah datangnya. Dia berbadan kerempeng. Tingginya tak lebih dariku. Sekitar 165 cm. Bajunya terlihat kusam. Namun raut mukanya terlihat sangat gembira. Jika boleh menaksir umurnya, mungkin dia berumur sekitar 50 tahunan, bahkan bisa lebih.

Dia mendongakkan kepalanya ke depan. Melihatku dengan tatapan tajam.

Aku ketakutan. Menggigil seluruh badanku. Bulu kuduk berdiri semua. Sungguh suasana begitu mencekam. Lampu yang biasanya menemaniku. Tembok yang kadang ku ajak bicara. Jendela kecil yang kadang ku ajak main. Sampai keramik putih yang pernah aku tinju-tinju sedemikian hebatnya ikut diam menambah aura kengerian.

Tiba-tiba terdengar suara dari mulutnya yang bau anyir. “Tolong matilah bersamaku. Aku sudah lama menunggumu. Bersama seluruh naskah-naskahmu. Agar naskahmu tak menjadi kenyataan. Bersegeralah mati!”

Aku berpikir keras menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul akibat kemunculan mahluk ini di depanku. Dalam posisi seperti ini sebenarnya aku tidak boleh berpikir macam-macam. Kurang wajar jika harus memikirkan selain bagaimana caranya menghindar dari mahluk ini. Minimal mengingat-ingat rapalan doa pengusir mahluk halus. Tapi karena aku memang aneh, yang dilakukan ya hal yang aneh juga.

Aku berpikir jangan-jangan dia yang ada di depanku ini adalah ayah Fat. Aku memang pernah melihat foto ayah Fat, tapi lupa di mana aku melihatnya. Aku kemudian memutar otak, jika sosok yang ada di depanku ini adalah ayah Fat, aku bisa memanfaatkannya untuk menipu dan mengambil naskahku supaya aku tidak terjerembab pada kisah yang menyedihkan.

Baru saja aku hendak melontarkan pertanyaan pada mahluk ini, aku disambar bentakkannya. “Jangan kau tanya aku siapa!”

Aku yang disambar bentakkan menjadi mengurungkan niat untuk bertanya. Tapi jika dipikir-pikir, kenapa mahluk di depanku ini menyebut naskah itu. Kenapa bukan naskah ini. Ini jelas menimbulkan pertanyaan lagi dalam otak dan benak ku. Iya naskah itu, bukan naskah ini.

“Jangan kau tanya aku datang dari mana. Jangan kau tanya aku siapa. Jangan kau berharap aku akan menghilang dari menghantuimu. Aku akan selalu datang kepadamu. Sampai kamu merasa muak. Merasa kesal. Merasa bosan. Dan akhirnya akan mati bersama bersamaku dan naskahmu” ucapnya tanpa diaba-aba.

“Aku memang ayahanda Fat. Aku tercipta dari naskahmu. Aku kau jadikan sebagai sosok yang pesakitan. Sama seperti Fat. Asal kau tau, aku tak pernah merasa nyaman ada dalam cerita yang kau buat ini!” bentaknya lagi.

“Hah” begitu ucapku dengan merasa heran. Aku terperanjat. Kaget dan terlontar kebelakang.

Dalam hatiku berbisik lirih “ini jelas kelakuan Fat yang telah merebut naskahku menjadi naskahnya. Mengotak-atik dan membolak-balik alur, tokoh dan penokohan”

“Keparat kau Fat!”, ucapku dengan nada kesal.

Sampai Detik ini

Fat. Dalam tidurnya memang tak pernah bermimpi. Ia tidur dengan nyenyak dengan balutan mentimun menutupi matanya. Katanya sih perawatan. Biar mata tak kelihatan hitam.

Setelah berhari-hari tidak tidur. Bergelut dengan struktur kalimat. Dengan kopi dan rokok. Dengan hawa dingin pegunungan. Dan dengan sunyinya malam. Kini ia merebahkan tubuhnya pada ranjang reot miliknya. Dia tak pernah mau mengganti ranjang jelek itu. Menurutnya, ranjang itu memberi pijatan-pijatan refleksi yang tak biasa. Ranjang itu adalah milik kakek dari kakeknya. Entah sudah berapa puluh tahun ada di sana.

Fat baru saja menyelesaikan naskah cerita. Dia berpikir keras untuk memutar-mutar fakta. Membolak-balikan opini. Menjadikan kalimat dari yang tadinya tidak langsung menjadi langsung ataupun sebaliknya. Menata posisi per penggal-penggal cerita agar terlihat menarik. Menggonta-ganti judul. Memikirkan dan menganalisis kesimpulan dan pesan apa yang hendak di sampaikan. Sampai menghapus kalimat maupun kata dan menuliskan kembali kata dan kalimat yang sama pada layar dan tempat yang sama.

Beberapa hari ini, dia juga jarang berjumpa dengan makanan. Hanya kopi dan rokok yang senantiasa menemaninya.

Sewaktu dia membeli rokok. Pernah ditanyanya soal kenapa Fat membeli rokok dengan jumlah sebanyak itu. Dia selalu beralasan kalau di rumahnya ada hajatan. Kalo alasan itu sudah dirasa kurang rasional, dia beralasan tetangganya yang sedang melakukan hajatan. Terus saja seperti itu. Anehnya kasir di Alfamaret itu percaya saja dibohongi. Padahal aslinya, rokok itu dia hisap sendiri.

Tapi tak apa Fat berbohong. Dia memang ahlinya berbohong. Pernah suatu ketika di tanya oleh tetangganya soal bapaknya yang jarang kelihatan. “Kemana bapakmu pergi, kok ndak kelihatan beberapa minggu ini?” “Ia sedang pergi ke Jakarta. Aku diberi amanat untuk menjaga rumah, makannya aku jarang ke luar. Tak pernah bertemu kalian-kalian semua. Aku terlalu sibuk mengurusi dan membersihkan rumah ini. Mohon maaf ya Pak Nasir. Njenengan sebagai ketua RT seharusnya sudah tak kabari dari kemarin. Cuman ya ini baru sempat” “Oh iya ndak papa. Emang ada keperluan apa kok bapakmu ke Jakarta?” “Katanya sih mau ikut membikin rumah sanak familinya yang sudah sukses di sana. Kariyawan tetap, kalo gak salah deh istilahnya” “Ouh njih. Ya sudah kalo begitu. Kami pamit dulu. Ini soalnya mau berangkat hajatan. Ada kendurenan dan tahlilan di rumah Kang Abud. Istrinya hamil 7 bulan katanya” “Ouh njih siap. Sumonggo. Punten njih pak” “njih”

Begitulah tipu-tipunya. Fat ahli dalam beretorika. Padahal, bapaknya yang kata Fat sedang pergi ke Jakarta kini terbujur kaku di pembaringan yang sama persis dengan yang sedang Fat baringi itu. Bapaknya meninggal sejak dua minggu lalu. Ia berhasil menutupi kenyataan itu dengan retorika bahasa dan mimik mukanya.

Fat menghela nafas panjang. “Hyuhhh” “Pak gak bisa geseran sedikit apa! Sempit ini! Aku jadi ndak bisa bernafas lega!”

Seperti yang diketahui. Bapaknya masih ada di pembaringan itu. Sampai detik terakhir aku menuliskan cerita ini. Sampai pada kata ini.

Kisah Itu Tanpa Judul ini

Fat. Insiden sebulan lalu itu masih menggenang dalam rawa kesedihan. Mungkin jika sudra sudah tak lagi jadi sudra aku tak akan menemui dirimu. Tapi ini bukan soal pemberontakan kaum bawah itu, ini soal cinta yang masih mekar dalam dada.

Sebagaimana diketahui oleh banyak pihak. Aku dituduh memperkosa Fat. Setelah diperiksa oleh pihak yang berwajib, Fat dibawa ke balai rehabilitasi. Di sana dia mendapat penangan khusus, sebab hanya dia dan kasusnya yang khusus juga.

Kini Fat sudah sembuh dari tekanan batin yang menghantuinya.

“Sekarang ceritanya dibalik, biar kau yang dijadikan kambing hitam” ucapnya dengan nada terkekeh.

Aneh memang. Fat sudah merencanakan settingan ini matang-matang sebelum ku beri tahu soal hubungan Rima dan Rudi. Ternyata Fat sudah tahu duluan. Dia sudah menebak, pasti aku akan pergi menemuinya. Segala reka-reka dia buat. Bahkan rencana lebih ekstrem lagi sudah dipersiapkan olehnya.

Aku duduk sambil memandangi langit-langit, ku kernyitkan wajahku. Menghela nafas panjang. Sepanjang rentetan rencana yang dibeberkan Fat kala dia menengok diriku di Rumah Tahanan milik negara yang berada di kota kecil bernama Kebumen. Entah kenapa aku begitu teringat ucapan terakhirnya itu. Naskah yang ku baca sewaktu di rumah Fat menunjukan jikalau kata terakhir dari naskah itu adalah itu. Itu yang membikin rumit isi kepala siapapun. Termasuk kepolisian yang menyelidiki kasus hebat ini. Itulah yang menjadi alasan kepolisian mendekamkanku pada ruangan sempit ini. Pengap rasanya jika harus mengingat-ingat kejadian itu, apalagi ditambah dengan udara hasil helaan nafasku yang sama-sama tak bisa keluar bebas di angkasa luas.

Sembari memegang kening dan menyisirkan rambut dengan tanganku kebelakang. Aku mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Kepala bagian belakangku masih sakit. Aku begitu kesulitan mengindeks ingatan dalam perpustakaan milik otakku.

Yang aku ingat hanya kata itu. Kata yang terakhir dari teks yang ku baca.

Setelah berhari-hari menunggu kepastian, akhirnya aku dituntut hukuman 1 tahun penjara dan denda mengembalikan naskah itu. Lah jelas, aku tidak mampu membayar tuntutan itu. Pertama, naskah itu sudah menjadi cerita yang nyata. Kedua, naskah itu sudah menjadi sejarah. Mana mungkin aku bisa mengembalikan sejarah. Memutar waktu. Jelas tuntutan itu tidak rasional. Cenderung memaksa.

Tapi apalah daya. Aku yang menolak untuk disalahkan tidak bisa lepas dari tuduhan. Ada saja alasan-alasan yang menerkamku. Jelas polisi dan kejaksaan, terutama Fat telah berkonspirasi.

Aku masih berpikir keras. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak kunjung menemui jawaban. Antara anak kalimat dengan induk kalimat yang terpisahkan. Antara kata yang hilang dengan kalimat yang tak tersusun sempurna.

Tiba-tiba dari dalam lobang hidungku mengalir darah. Merah pekat. Aku terjatuh. Terlungkap. Sama seperti posisi Fat sewaktu jatuh secara tiba-tiba di lantai rumahnya.

Diam. Semua diam. Tak seorangpun berkata, jangankan seseorang, tembok yang ku ajak bicara tadi malam, jendela kecil berjeruji besi yang ku pandangi tadi malam, keramik putih yang ku pukul-pukul tadi malam tak berkata satu dua patah pun.

Hanya ada satu yang tahu dan mau berkata, naskah ini. Iya, naskah ini. Bukan naskah itu yang menyebabkanku masuk dalam bui dengan memakai baju kesedihan.

Fat benar-benar keparat!. Aku sekarang paham kenapa aku bisa masuk dalam cerita yang seharusnya aku tidak masuk di dalamnya. Fat telah membuat naskahku menjadi naskahnya. Sekarang nasibku berada pada tangan Fat. Pada sepucuk karya tulis yang dibuatnya.

Fat memang pernag bilang kepada sewaktu dia mengambil naskahnya. Dia ingin melamar menjadi penulis saja. Dia tidak mau menjadi pesakitan dalam narasi cerita yang ku buat.

Sekarang, cerita itu dipegang dan dikuasai sepenuhnya oleh Fat.

Narasi yang ku tuliskan pada cerita pertamaku memang menceritakan tentang Fat yang dituduh menadi orang kedua, sekaligus ketiga dalam hubungan Rima dan Rudi. Fat menolak itu. Fat tak mau menjadi tokoh pesakitan.

Fat. Kelicikanmu akan aku bayar bahkan dengan semua bunganya. Aku memang berhutang pada rentenir cerita. Termasuk dirimu Fat. Kau adalah rentenir cerita yang mencekikku setelah bermuka-muka manis.

Sudah dulu Fat. Aku paham kau lupa dan kehilangan ide. Kau pasti kebingungan hendak menuliskan apa lagi pada cerita ini.